Kamis, 14 Juli 2011

Ayat Al Qur'an pada Kulit Bayi

......Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir.(Q.S. Ar Ra'd 4)

Para pembaca yang budiman, sesungguhnya Allah selalu menunjukkan bukti dan tanda-tanda Kekuasaan dan Kebesaran-Nya kepada kita semua, baik yang ada di langit, bumi dan bahkan pada diri kit sendiri. Beberapa waktu lalu kita telah beredar di media masa, satu tanda Kebesaran Allah yang muncul pada seorang anak bayi di Rusia. Ayat-ayat Al Qur'an muncul pada kulit seorang anak bayi yang muncul guratan-guratan yang menyerupai tulisan huruf Arab seperti petikan ayat suci Al-Quran pada kulit tubuh seorang bayi itu.

Guratan ayat Al-Quran itu pertama kali pada pasca kelahiran dengan kemunculan tulisan nama ‘Allah’ tertulis di dagu sang bayi. Namun mulai awal bulan Ramadhan, tulisan ayat-ayat itu mulai menghilang. Setelah berselang beberapa lama, ayat-ayat Al-Quran yang lainnya mulai bermunculan di sekujur tubuh, pada punggung, lengan, perut, kaki. Sebelum muncul tulisan baru, ayat-ayat yang lama menghilang terlebih dahulu, kemudian diganti dengan kemunculan ayat-ayat baru.
Pemunculan guratan ayat Al-Quran itu terjadi setiap dua kali dalam sepekan, pada hari Senin dan malam hari antara hari Kamis dengan hari Jumat. Salah satu ayat yang muncul tertulis bacaan ‘Allah adalah pencipta seluruh alam. Pada awalnya orang tuanya Ali Yakubov, bayi berumur 9 bulan ini tidak memberitahukan fenomena ini kepada siapapun juga. Akan tetapi, setelah berkali-kali terjadi dan setiap kemunculannya selalu disertai dengan kondisi bayinya yang gelisah dan suhu badannya meningkat. Maka mereka memutuskan untuk memberitahukan fenomena ini kepada dokter dan imam di desa setempat dimana mereka bertempat tinggal.
Orangtua bayi ini mengaku bahwa mereka berdua bukanlah merupakan orang yang termasuk taat beragama, walau mereka tinggal di kawasan dengan pengaruh Muslim yang kuat, desa Oktober Merah di provinsi Dagestan.
Akan tetapi, setelah kemunculan fenomena aneh pada bayinya, mereka mulai merasakan juga pengaruhnya. Mereka mulai mengalami perubahan spiritual dalam dirinya. Mereka berubah menjadi lebih religius dan berusaha lebih taat beragama.
Setelah fenomena aneh ini dikabarkan kepada aparat medis dan ulama setempat. Maka kabar perihal fenomena aneh ini kemudian tersebar dan mendapatkan perhatian serta diberitakan secara meluas oleh media massa.

Namun seperti lumrahnya yang biasa terjadi saat ada kabar tentang pemunculan sebuah fenomena aneh. Beragam interprestasi dan beraneka pendapat muncul terhadap fenomena aneh tersebut. Hal yang lumrah dan wajar saja, tentu tak semua bisa sepakat dan sependapat.
Tak hanya saling berbeda di soal tanggapan dan pendapat serta interprestasinya saja, juga tentu berbeda pula dampak pengaruhnya. Dimana tak semua tentu akan mengalami pengaruh berupa perubahan spiritual keagamaannya akibat dari kemunculan fenomena ini.

Beragam interprestasi dan pendapat serta dampaknya ini berkait erat dengan cara pandang dan cara berfikir yang saling berbeda-beda pada setiap orangnya. Tak luput pula, hal ini juga dikarenakan adanya perbedaan kondisi spiritualnya, yang diakibatkan oleh perbedaan tingkat penerimaan dan pemahaman serta penghayatan atas ajaran agamanya pada masing-masing pribadi.
Sebagian kalangan melihatnya dari sudut pandang spiritual. Bagi kalangan ini, fenomena ini sebagai tanda-tanda peringatan dari Allah SWT yang perlu ditafakuri agar para hamba-Nya melakukan muhasabah dan intropeksi diri, lalu berusaha mendekatkan diri kepada ajaran agamanya.
Bayi laki-laki ini merupakan tanda dari Allah. Kami menganggapnya sebagai peringatan untuk muslim di Rusia dan Dagestan. Mereka harus menyesali kesalahan-kesalahannya, dan melepaskan diri dari ketegangan dan konflik serta perpecahan yang terjadi di republik in, serta harus menjalani perintah Allah SWT ”, kata Akhmedpasha Amiralaev, seorang ulama yang juga anggota parlemen lokal.

Namun ada pula yang memandangnya dari sudut pandang sebagai fenomena hukum-hukum alam yang tak ada kaitan dan hubungan sebab akibatnya dengan Allah SWT. Sesuatu hal yang ilmiah dimana dapat dengan sangat mudah dijelaskan oleh ilmu pengetahuan dan teknologi serta nalar manusia.
Bahkan di kalangan ini, tak kurang pula yang skeptis dan menganggap fenomena ini tak lebih dari sebuah rekayasa belaka dalam rangka untuk menimbulkan sensasi dan mencari popularitas serta ketenaran saja.
Bagi kalangan para pakar ini, fenomena pemunculan ayat suci Al-Quran pada kulit bayi itu, sebagai sebuah fenomena dari hukum alam berkaitan dengan hukum sebab akibat yang kemungkinan besar diakibatkan oleh adanya efek iritasi.
Iritasi yang dipicu oleh sesuatu zat tertentu, seperti lada atau garam atau obat-obatan tertentu. Dimana zat tertentu tersebut pada beberapa orang tertentu yang menderita patologi lambung dan jenis kulit yang sensitif akan menimbulkan peradangan kulit.
Lalu dengan menggunakan alat tertentu, seperti tongkat kecil misalnya, dapat dibuat jejak-jejak di kulit bayi itu sehingga akan memunculkan guratan-guratan berbentuk huruf Arab tersebut.
Sementara ada pula kalangan yang melihat dan mentafakurinya dari sudut pandang sebagai tanda dari Allah SWT sebagai isyarat zaman. Pandangan ini paling tidak terwakili oleh pendapatnya seorang imam lokal yang bernama Abdullah.
Menurutnya dalam Al-Quran sudah dikatakan bahwa sebelum akhir zaman datang memang akan muncul orang-orang dengan ayat-ayat kitab suci di tubuhnya. Salah satu tanda itu akan terbaca dengan kalimat “Jangan sembunyikan tanda-tanda ini dari orang-orang”.
Menurutnya hal itu dijelaskan di Al-Quran, Surat ke 41 (Fushshilat) ayat ke 53-54.
Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al-Quran itu adalah benar. Dan apakah Tuhanmu tidak cukup (bagi kamu) bahwa sesungguhnya Dia menyaksikan segala sesuatu ?. Ingatlah bahwa sesungguhnya mereka adalah dalam keraguan tentang pertemuan dengan Tuhan mereka. Ingatlah, bahwa sesungguhnya Dia Maha Meliputi segala sesuatu”.

Selainnya itu, ada pula kalangan lain yang mempunyai pendapat berbeda. Kalangan ini menganggap fenomena ini sebagai sesuatu yang tidak perlu dibahas dan diributkan serta dibesar-besarkan. Kalangan ini mengkhawatirkan pemberitaan yang meluas atas fenomena ini akan menimbulkan Syirik dan Musyrik serta memperluas kronisnya epidemi penyakit TBC (Takhayul, Bidah, Kurafat) di kalangan umat Islam.
Selanjutnya hal itu akan menghambat upaya yang telah dilakukan oleh kalangan penerusnya para ulama salaf dalam memurnikan ajaran Islam. Sesuatu yang nantinya malahan akan membantu kalangan ahlul bidah wal jamaah dalam menyuburkan ilmu gothak-ghatuk dan budaya klenik serta sinkretisme dikalangan umat Islam. Dimana hal itu akan merusak kemurnian akidah agama Islam.

Akhirulkalam, bagi kita yang berada jauh dari Rusia, fenomena ini tentu juga akan menimbulkan tanggapan dan pendapat serta interprestasinya saja, juga tentu berbeda pula dampak pengaruhnya.
Terlepas dari apapun tanggapan dan pendapat serta interprestasi kita masing-masing. Namun tak ada salahnya kita kembali mengingat bahwa sesungguhnya Allah SWT hanya menuangkan sebagian yang sangat teramat kecil dari Perbendaharaan Ilmu-Nya kepada umat manusia.

Setinggi-tingginya pencapaian kecanggihan teknologi dan sehebat-hebatnya ilmu pengetahuan manusia itu hakikatnya hanyalah sebagian yang sangat teramat kecil dibandingkan Ilmu-Nya yang tiada terbatas, bagaikan air laut yang menempel di jari kelilingking saja dibandingkan Samudera Ilmu-Nya meliputi segala sesuatunya.
Ilmu-Nya diturunkan-Nya dalam bentuk ayat-ayat Qauliyah yang terdiri dari 30 juz dan 114 surat serta 6000-an ayat, melalui ath-thariqah ar-rasmiyah dalam jalur kewahyuan melalui perantaraan malaikat Jibril kepada Rasulullah SAW. Selain itu, memang Ilmu-Nya juga diturunkan-Nya dalam bentuk ayat-ayat Kauniyah melalui ath-thariqah ghairu rasmiyah.
Dari dua konteks itulah, perlu kita ingat kembali bahwa ajaran agama Islam mempunyai tiang-tiang penyangga keimanan dan keislaman berupa Rukun Islam yang ada 5 rukun, dan Rukun Iman yang ada 6 rukun. Dimana percaya kepada kitab suci Al-Quran merupakan salah satu dari Rukun Iman.
Maka, apakah kita akan meletakkan keimanan kita kepada ilmu pengetahuan dan teknologi itu ada diatas otoritas Al-Quran, ataukah sebaliknya ?.
Semua tentu terpulang kembali kepada diri kita masing-masing, dimana kita akan meletakkan keduanya dalam bingkai cara pandang dan cara berfikir kita masing-masing.

Wallahualambishshawab.

0 komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...